Jumat, 09 September 2011

Perbanyakan Tanaman secara Vegetatif

1. STEK
Perbanyakan tanaman dengan stek merupakan yang metode yang digunakan secara luas. Pada dasarnya perbanyakan tanaman terbagi dalam dua tipe yaitu perbanyakan vegetatif dan perbanyakan generatif. Perbanyakan stek termasuk dalam perbanyakan tanamn secara vegetatif melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel tanaman. Penggolongan stek menurut bagian tanaman terdiri dari stek akar, stek batang dan stek daun.
Kemampuan suatu stek batang untuk berakar telah terbukti karena faktor-faktor dalam yang ada dalam sel-sel batang dan zat-zat yang diproduksi daun dan tunas yang tertranslokasi seperti: auksin, karbohidrat, senyawa nitrogen, vitamin dan berbagai senyawa lain. Faktor-faktor luar seperti cahaya, suhu, kelembaban dan ketersediaan oksigen berperan penting dalam proses pengakaran tersebut.
Efektivitas pengakaran batang stek tanaman bervariasi menurut tahap perkembangan dan umur tanaman, tipe dan lokasi batang dan waktu. Pada umumnya, kemampuan berakar bertalian dengan tahap pertumbuhan juvenil.tanaman yang sukar berakar yaitu tanaman dewasa dapat dibuat mudah berakar dengan mengembalikannya ke masa juvenil.
Faktor lingkungan yang berpengaruh dalam keberhasilan stek tanaman adalah:
Kelembaban. Matinya batang stek akibat pengeringan sebelum pengakaran, merupakan salah satu kegagalan yang sering terjadi dalam pembuatan stek. Tanpa akar yang terbentuk, setek mudah kekurangan air dan daun akan tetap bertranspirasi sehingga kehilangan air. Dalam prakteknya, daun dapat dipotong untuk mengurangi transpirasi. Penggunaan pengkabutan dalam lingkungan stek dapat mengatasi masalah ini, bahkan dalam keadaan itu stek dapat siberi cahaya, sehingga fotosintesis dapat berlangsung.
Suhu
Lingkungan tempat stek berada harus diatur untuk mengurangi transpirasi dan respirasi. Suhu siang 21- 27C dan suhu malam 16- 21C merupakan suhu optimum untuk pengakaran stek tanaman.
Cahaya
Cahaya nampaknya menghambat pengakaran. Stek batang terna dan batang lunak secara tidak langsung resposif terhadap cahaya dalam peranannya dalam sintesis karbohidrat. Stek batang keras berakar lebih baik di tempat gelap. Perangsangan pengakaran juga dapat tercapai dengan pembungkusan batang agar ber-etiolasi.
Media perakaran
Media pengakaran harus dapat memberikan kelembaban dan oksigen cukup dan harus bebas penyakit, tidak perlu media berisi nutrisi hara, sampai akar telah terbentuk. Medium dapat berpengaruh kepada persentase stek yang berakar dan tipe akar yang terbentuk. Berbagai campuran seperti tanah, pasir, gambut dan bahan-bahan anorganik seperti vermikulit dan perlit telah banyak digunakan. Perlit digunakan sendiri atau kombinasi dengan gambut cukup efektif karena sifat daya pegang airnya. Pasir/arang sekam atau air saja juga cukup memuaskan untuk stek yang mudah berakar.
                Contoh tanaman : singkong 

2. CANGKOK
Mencangkok atau okulasi adalah teknik pengembangbiakan tanaman yg sangat cocok utk di tanam di dalam pot. Di samping karena qualitas buahnya terjaga sama spt induknya juga nantinya pohon tumbuh tidak terlalu tinggi. Pohon yg dikembangbiakan dg teknik cangkok tidak akan mempunyai akar tunggang.
Tanaman yg dapat dicangkok adalah tanaman buah berkayu keras atau berkambium. 
Contoh tanaman : Mangga, jambu, jambu air, jeruk, dll.

3. OKULASI  ( MENEMPEL )
Okulasi ( oculatie bahasa Belanda, budding bahasa Inggris) disebut juga menempel. Oculus artinya mata, sedangkan bud artinya tunas. Pengembangbiakkan dengan cara ini lebih mudah, lebih cepat, dan lebih murah. Satu cabang mata yang mempunyai beberapa mata dapat dipakai untuk menempel 4 batang pokok atau lebih. Dengan cara melengkung, batang induk harus dekat dengan batang pokok, sedang kalau menempel, bahan tempel (cabang mata ) dapat diambil dari tempat yang jauh, asal cara membawanya benar. 
Contoh tanaman : Mangga

4. MENGENTEN  ( MENYAMBUNG/ GRAFTING )
Grafting adalah salah satu teknik perbanyakan vegetatif menyambungkan batang bawah dan batang atas dari tanaman yang berbeda sedemikian rupa sehingga tercapai persenyawaan, kombinasi ini akan terus tumbuh membentuk tanaman baru.

contoh tanaman : Durian, Terung,Tomat.

5.          MERUNDUK

Merunduk (layering) adalah proses pembiakan vegetative buatan yang dilakukan pada tumbuhan bercabang panjang dengan merundukkannya ke tanah. Jadi, batang tanaman itu ditundukkan ke tanah agar dapat berkembangbiak. Tetapi, kita harus menimbun batang tanaman dengan tanah. Dari ruas-ruas batang tanaman tersebut akan tumbuh akar dan menjadi tanaman yang baru.



Syarat merunduk:

1) Bercabang panjang

2) Bercabang lentur

3) Cabangnya dekat dengan tanah

    

Merunduk juga dapat dilakukan dengan dua cara . Yaitu dengan cara Merunduk biasa dan Merunduk majemuk .



o Merunduk biasa : Cabang tanaman dirundukkan dan ditimbun dengan tanah, kecuali ujung cabangnya. Setelah membentuk akar, cabang atau batangnya dipotong, sehingga diperoleh tanaman baru. Cara ini dapat dikerjakan pada mawar, jambu air, dan arbei




o Merunduk majemuk : Seluruh batang dirundukkan kemudian ditimbuni tanah pada beberapa tempat atau seluruh tempat. Cara ini dapat dikerjakan pada tanaman soka dan anggur .

6.       KULTUR JARINGAN

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.



 Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar